TNews, BENGKULU – Ambruknya dinding pagar PDAM di kawasan Pekan Sabtu, Perumahan Bukit Hijau Lestari, memicu sorotan serius publik. Proyek yang bersumber dari tahun anggaran 2025 dan baru saja rampung itu kini dipertanyakan, di tengah dugaan kuat adanya kelalaian dalam perencanaan dan pelaksanaan yang berujung pada runtuhnya struktur.
Peristiwa terjadi pada Minggu malam sekitar pukul 23.00 WIB (6/04/2026), sekaligus mempertegas kecurigaan warga yang sejak awal telah mencium kejanggalan dalam proses pembangunan.
Sejak tahap pengerjaan, warga mengaku telah berulang kali memperingatkan potensi risiko. Pagar tersebut diduga dibangun dengan memanfaatkan pondasi lama hasil swakelola masyarakat, tanpa penguatan struktur yang memadai. Kondisi ini semakin diperparah oleh sistem drainase yang dinilai jauh dari standar—tanpa gorong-gorong, hanya mengandalkan pipa paralon berdiameter kecil.
“Sudah kami ingatkan. Seharusnya menggunakan gorong-gorong, bukan pipa kecil, agar aliran air tidak menekan dinding. Tapi pekerja mengaku hanya menjalankan perintah. Kalau sudah ambruk seperti ini, siapa yang bertanggung jawab—apakah akan dianggap sebagai faktor alam?” ujar seorang warga dengan nada kecewa.
Dalam praktik pembangunan infrastruktur, setiap proyek semestinya disusun melalui perencanaan teknis yang matang, melibatkan konsultan perencana, serta diawasi secara ketat oleh konsultan pengawas. Perhitungan beban struktur, kekuatan pondasi, hingga sistem pengendalian aliran air merupakan aspek fundamental yang tidak dapat ditawar.
Sorotan kini mengerucut pada titik paling krusial: kekuatan struktur. Dinding setinggi 4 hingga 5 meter memiliki beban besar dan menuntut pondasi yang kokoh serta terintegrasi. Pertanyaan mendasar pun mengemuka—layakkah struktur sebesar itu berdiri di atas pondasi lama yang tidak dirancang untuk menopang bangunan permanen?
Informasi yang dihimpun menyebutkan pondasi tersebut dalam kondisi “menggantung” dan tidak menyatu secara utuh dengan konstruksi baru. Fakta ini memperkuat dugaan bahwa proyek dikerjakan tanpa perencanaan teknis yang layak.
Di sisi lain, buruknya sistem drainase diduga menjadi faktor pemicu utama. Air yang tidak memiliki saluran pembuangan memadai tertahan di balik tembok, menciptakan tekanan hidrostatis besar yang pada akhirnya memicu runtuhnya struktur.
Peristiwa ini mempertegas indikasi adanya kelalaian serius dalam perencanaan, pelaksanaan, hingga pengawasan proyek. Bangunan yang seharusnya dirancang untuk bertahan dalam jangka panjang justru roboh dalam waktu singkat—indikasi kuat kegagalan konstruksi yang tidak bisa dianggap sepele.
Warga mendesak investigasi menyeluruh dan transparan, termasuk mengusut tanggung jawab pihak pelaksana, konsultan perencana, hingga konsultan pengawas. Mereka juga menuntut klarifikasi resmi serta pertanggungjawaban atas kerugian yang ditimbulkan.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak terkait. Tekanan publik terus meningkat, menuntut agar kasus ini diusut tuntas dan tidak berakhir tanpa kejelasan serta akuntabilitas.*













